WEKA
Mulai 1 Oktober Liquid Vape Harus Dilekati Pita Cukai
August 22, 2018
Sosialisasi Peraturan Cukai serta Launching Website Generasi Baru Bea Cukai Ternate
August 30, 2018
Tampilkan semua

Burung Weka Halmahera, Bidadari penggoda dari Maluku Utara

Burung Weka ditemukan pertama kali oleh Alfred Russel Wallace di Pulau Bacan, Maluku Utara, tahun 1858. Wallace menyebutnya sebagai bird of paradise karena kecantikan burung ini. Penemuan itu lalu ditulisnya dalam sebuah laporan yang dikirim ke Inggris. Setahun kemudian, laporannya menjadi bahan kajian para ornitholog di Inggris.

Ciri dan Perilaku Burung Weka.

Burung Weka berukuran sedang, sekitar 28 cm. Berwarna coklat kehijauan zaitun. Burung Weka jantan mempunyai mahkota warna ungu dan ungu-pucat mengkilat serta warna hijau zamrud pada dadanya. Burung Weka betina berukuran lebih kecil dengan warna cokelat zaitun dan serta punya ekor lebih panjang dibandingkan burung jantan.

 Ciri khas burung Weka (Semioptera wallacii) adalah adalah dipunyainya dua pasang bulu putih yang panjang yang keluar menekuk dari sayapnya. Bulu ini dapat ditegakkan atau diturunkan sesuai keinginan burung ini. Burung cantik ini dari Maluku Utara yang dikenal juga sebagai weak-weka ini memakan serangga, antropoda, dan buah-buahan. Burung jantan bersifat poligami.

Kegenitan burung berbulu indah ini terlihat terutama saat musim kawin. Burung jantan akan memamerkan kecantikan bulu dan bentang sayapnya serta kegenitan dalam menari untuk merayu dan menarik perhatian betinanya. Burung Weka betina akan menghampiri dan memilih satu pejantan yang dinilai paling indah tarian dan bentangan sayapnya.

Persebaran, Habitat, dan Populasi. Burung Weka merupakan satwa endemik Maluku Utara dan menjadi jenis Cenderawasih yang tersebar di kawasan paling barat. Burung ini bisa dijumpai di pulau Halmahera dan Bacan di Maluku Utara.

Beberapa lokasi yang menjadi habitat burung ini adalah hutan Tanah Putih, gunung Gamkonora, dan hutan Domato (Halmahera Barat), hutan Labi-labi di area Taman Nasional Aketajawe dan hutan Lolobata (Halmahera Timur). Burung bernama lokal weak-weka ini juga ditemukan di pulau Bacan.

Populasi burung Weka (Semioptera wallacii) tidak diketahui dengan pasti tetapi dipastikan telah menurun jika dibandingkan dengan tahun 1980-an lantaran banyaknya kawasan hutan habitat burung Weka yang mengalami deforestasi. Penurunan populasi juga diakibatkan oleh perburuan liar untuk menangkap burung Weka jantan yang mempunyai bulu indah.

Sayangnya burung Weka (Semioptera wallacii) yang endemik Maluku Utara ini semakin hari semakin langka. Meskipun semakin sulit ditemukan di habitatnya, namun oleh IUCN Redlist, status konservasi burung ini masih dianggap aman sehingga masih diklasifikasikan sebagai Least Concern. Sedangkan oleh CITES, burung Weka Halmahera didaftarkan sebagai Apendiks II.

Pemerintah Indonesia, meskipun tidak spesifik menyebut nama spesies burung Weka dalam lampiran PP No. 7 Tahun 1999, namun burung ini tetap termasuk sebagai salah satu satwa yang dilindungi. Ini lantaran semua anggota famili Paradisaeidae atau berbagai jenis Cenderawasih, merupakan satwa yang dilindungi. Populasinya di alam bebas disebutkan hanya tinggal 50 – 100 ekor.

Menipisnya populasi burung Weka bukan disebabkan penangkapan burung, melainkan akibat penebangan dan penjarahan hutan di Halmahera, terutama jenis kayu matowa. Akibatnya, spesies ini Weka kehilangan habitat dan banyak yang mati.

Upaya yang dapat dilakukan dengan konservasi in-situ fauna burung Weka endemik (Semioptera wallacii),melalui pendekatan sosial masyarakat dan berguna sebagai acuan bagi masyarakat setempat dalam upaya menjaga kelestarian alam.

Referensi

news.okezone.com/read/2009/06/10/1/227774/habitat-baru-burung-Weka-ditemukan
http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/146693/0
sains.kompas.com/read/2010/06/06/11420954/Burung.Weka.di.Ambang.Kepunahan
http://www.burung.org/detail_txt.php?op=article&id=91